Sabtu, Desember 25, 2021

BUKAN CERPEN, BUKAN PUISI - HANYA CATATAN KEBUCINAN!

Ketika aku harus beranjak dari zona yang membuatku merasa nyaman bertahun-tahun, tentu aku merasa berat untuk meninggalkan. 
Tahun ini, tahun 2021, aku merasakan rasa dimana aku berat meninggalkan, namun aku tak mau ditinggalkan. Maka, jalan satu-satunya, aku harus meninggalkan, dengan cara berjuang semaksimal mungkin mengerjakan tugas ujian. 
Sekolahku, sebuah sekolah Luar Biasa yang ada di Pemalang, sebuah kabupaten kecil di jawatengah tempat aku berjuang menuntut ilmu setelah hampir 4 tahun aku berhenti sekolah. Kalian tahu? Setelah kehilangan penglihatan, hampir pula aku kehilangan masadepan karena aku berhenti sekolah. Akan tetapi di tahun 2021 tibalah saatnya aku melepaskan sragam SMA yang bahkan di masa kecilku, aku tak pernah memimpikan akan mengenakannya.

Aku tahu, setelah melepaskan seragam putih abu-abu, tantangan lain masih menunggu. Berhasil masuk ke universitas, itulah impianku, yang sangat ingin aku raih dengan rasa yang menggebu-gebu. Berat, sungguh berat meninggalkan sekolah yang selama ini tempat menuntut ilmu, canda dan tawa, bersama sahabat tercinta di sekolah ini. Berat hati meninggalkan asrama tempat aku bernaung selama bertahun-tahun, tempat aku berlindung dari terik dan hujan, tempat aku tertawa dan menangis karena percintaan, dan saksi bisu saat dosa masa muda ku lakukan, serta saksi bisu saat aku pusing memikirkan pelajaran. Tembok kamar asrama itulah yang menjadi sasaran, saat hatiku sakit karena diremehkan. Diam, pada dasarnya aku memang seorang pendiam, tapi pikiran ini tak diam memikirkan bagaimana caraku menyongsong masadepan. Ah, intinya, berjuta kenangan telah tercipta di tempat ini, di asrama SLB tempatku mereguk pelajaran.

Tapi, aku merasa bukan itu yang membuat aku berat meninggalkan. Disana, aku telah menemukan burung Nuri yang sangat aku kagumi. Bah! Kalimat burung Nuri aku rasa kurang tepat. Ku pikir dia satu bintang yang dapat kulihat dengan mata batinku, karena mata lahiriahku blind total. Terang, seluruh jiwaku terang saat bintang itu terbit menerangi seluruh penjuru galaksi jiwa. Akan tetapi, kalian tahu tentunya. Adalah sebuah mimpi bagiku untuk meraih bintang. Dan kalian pastinya tahu, yang ku istilahkan sebuah bintang itu tak lain tak bukan merupakan seorang wanita. Mungkin aku nampak berbeda, namun yakinlah rasa dan jiwaku sama, seperti kalian. Aku bisa merasa sakit, aku bisa merasa sedih dan menangis, bahkan aku juga bisa merasakan rasanya jatuh cinta, seperti halnya pria dewasa yang telah mengenal wanita.

Hanya terkadang hati ini tak merasa aku siapa, dan dia siapa. Wanita itu, yang selama dua tahun lamanya mengisi jiwa, bahkan untuk mengetahui nama lengkapnya saja aku harus mencari informasi dari teman-teman dengan berbagai jurus pancingan. Wanita yang sejak pertama aku mengenalnya, dia langsung mengisi jiwa, tapi untuk bercakap dengannya saja selama aku mengenalnya tak lebih dari 20 kata. Kamar itu, yang aku tempati dulu, menjadi saksi bisu saat aku terkagum-kagum mendengar indah suaranya. Sendal jepit merek Swallow, menjadi saksi bisu saat aku seret melangkah melalui belakang kamarnya hanya sekedar ingin mendengar suaranya. Betapa maha pemurahnya Tuhan yang telah mengatur waktu dan memberi kesempatan untuk aku duduk berdampingan dengannya. Itulah untuk yang pertama kalinya aku duduk sangat dekat dengannya. Diam, diam tanpa kata, karena setiap aku mendengar suaranya, mulutku terkunci seribu bahasa. Apalagi duduk berdampingan sedekat malam itu.

Hal yang sangat aku syukuri, yaitu kemurahan tuhan yang memberiku waktu dan kesempatan, untuk pertama kalinya aku menggenggam tangannya. Sungguh, seribu kata berkecamuk di dalam hati. Hatiku menyampaikan betapa berartinya dirinya, untuk aku, meskipun aku yakin dia samasekali tak mendengar dan merasa. Sungguh, aku mnyayanginya.

Kini aku telah terpisah dengannya, sekian lamanya aku tak bersua, hanya mampu berdoa semoga dia selalu dalam lindungan sang Kuasa. Dan kelak kita dapat kembali bersua dalam keadaan yang berbeda. Kini aku telah masuk Universitas, terimakasih, ibu bapak Guru, atas ilmu yang telah kau berikan dengan ikhlas. Terimakasih, kamu, aku diam, tapi diamku karena aku mengagumimu, mulutku terkunci karena aku tak tahu bagaimana caranya aku menyusun sebuah kalimat, untuk berbicara denganmu, Bahasa dan sastra Indonesia, itulah jurusan yang aku ambil, semoga kelak aku tahu cara berbicara denganmu, meskipun aku tahu, keindahan bahasa yang paling indah sekalipun, tak cukup untuk mengungkapkan cantikmu.

0 Komentar:

Posting Komentar

Cari Yang Ada

Mengenai Saya

Seorang Tunanetra dari tegal yang sangat hobby menulis