Ada keyakinan yang teramat kuat, ada semangat berjuang yang begitu tinggi, ada kesungguhan bahwa aku harus bisa, dan kelak aku akan sama dengannya, hidup bersama karena bahagiaku adalah bahagianya.
Keyakinan demikian begitu kuat hanya karena aku mendengar suaranya. Betapa besar aku mencintainya, meskipun hanya cinta dalam hati, yang terus tumbuh subur laksana bunga yang menghiasi seluruh taman dijiwa. Suaranya, adalah pasokan energi yang aku butuhkan, saat aku mulai lemah. Ku fikir, setelah hampir satu tahun aku berpisah dengannya, tak lagi bertegur sapa, tak lagi menghirup parfum yang Ia kenakan, tak lagi berjalan di belakang kamarnya untuk dapat mendengar suaranya, rasa ini pun berlahan akan sirna. Ternyata aku salah. Ia, masih menjadi pasokan energi terbaik saat dayaku mulai lemah.
Namanya, masih terukir denan indah didalam hati, untaian doa yang selalu mengaliri pembuludarah ini, semoga kelak kita kembali bersua, terkadang aku senyum-senyum sendiri hanya karena aku teringat saat duduk begitu dekat dengannya, terkadang jantung ini berdegug kencang saat aku ingat saat waktu itu ku genggam tangannya.
Semoga kelak Ia akan mengerti, aku merindukannya, sepenuhnya aku menyadari, aku siapa, dan dia siapa, ingin aku melupakann rasa yang terus kupendam didalam dada, dan mengenang dengan sewajarnya. Namun disetiap denyut pembuludarahku, menolak hal itu.
Setiap kalimat saat kita bertegursapa, ketika kita masih bersama, masih ku ingat dengan baik walaupun tak lebih dari duapuluh kata.
0 Komentar:
Posting Komentar