Prosa merupakan suatu karya sastra yang disajikan dengan bentuk cerita, dan disampaikan menggunakan narasi. Penulisan prosa menggabungkan bentuk monolog dan dialog. Melalui tulisannya, Pengarang cerita menyampaikan pemikiran-pemikirannya ke dalam pikiran tokoh. Penyampaian gagasan dilakukan selama para tokoh melakukan dialog.
Cerita pendek (CERPEN) merupakan jenis prosa yang sampai saat ini masih sangat digemari masyarakat. Sejauh ini, sangat banyak orang yang menceritakan pengalaman pribadinya, pengalaman orang lain, ataupun sekedar mengarang cerita fiksi.
Dengan menulis sebuah CERPEN, seseorang dapat mengungkapkan segala gagasan-gagasan yang ada didalam pikirannya. Begitupun dengan penikmat atau pembaca CERPEN. Dengan membaca CERPEN, seseorang dapat terhibur, bertambah pengetahuan, serta belajar dari pengalaman orang lain. Belajar yang paling murah dan mudah, adalah belajar dari kisah orang lain, dari pengalaman orang lain. Hal itu salasatunya yang membuat hingga saat ini CERPEN masih sangat digemari masyarakat. Dan karena hal itu pula, rata-rata penulis cerpen menulis ceritanya agar selalu ada pesan moral yang dapat dipetik pembaca, atau secara tidak langsung penulis menyampaikan sesuatu kepada pembaca agar pembaca dapat mengambil khikmah, atau pembelajaran dari cerita di dalam CERPEN yang dibacanya.
Dari segi pragmatik, tindak tutur yang disampaikan oleh penutur yang berakibat mitra tutur dapat melakukan sesuatu atas tuturan yang disampaikan penutur disebut jenis tindak tutur perlokusi. Maka, jika setiap ujaran di dalam suatu CERPEN di analisis menggunakan jenis tindak tutur dari segi pragmatik, kita akan mengetahui setiap makna yang disampaikan oleh seorang penulis cerpen. Dan kita akan mengetahui lebih jelas, setiap pesan dari seorang penulis yang ingin disampaikan kepada pembacanya, melalui alur kisah, serta tokoh dan penokohan didalam CERPEN. Serta darisana pula kita dapat mengetahui mengapa hanya dengan membaca sebuah kisah di dalam CERPEN seseorang dapat memetik sebuah pelajarann, bahkan dapat mencontoh apa yang dilakukan oleh tokoh didalam CERPEN, hal ini tak terlepas dari pengaruh kalimat yang disampaikan oleh penulis CERPEN didalam tulisannya.
Dalam hal ini, jenis tindak tutur perlokusi merupakan jenis tindak tutur yang berperan cukup penting didalam penyampaian kalimat didalam CERPEN, yang disampaikan penulis melalui tulisannya, dan kalimat tersebut dapat memberi pengaruh besar kepada seorang pembaca, untuk melakukan sesuatu.
Di tulisan ini, penulis akan menganalisis kutipan ujaran didalam CERPEN KENANG-KENANGAN WANITA PEMALU, karya WS Rendra. CERPEN tersebut mengisahkan tentang sebuah penyesalan seorang gadis, karena Ia telah kehilangan sosok pria yang sangat dicintainya dan mencintainya saat dirinya masih berusia 17 tahun. Namun Ia tak pernah memilikinya hingga pria itu pergi untuk selamanya. Rasa malunya yang amat besar dan ucapannya yang amat pedas, yang diucapkannya saat dulu membuat gadis itu tak pernah memiliki pria yang dicintai untuk selamanya. Ujaran yang diucapkan oleh tokoh gadis di dalam CERPEN itu merupakan akibat dari jenis tindak tutur perlokusi, yang berakibat amat buruk bagi dirinya, dan pria yang sangat dicintainya. Berikut adalah kutipan teks dalam cerpen, yang merupakan tindak tutur perlokusi:
"Dalam keadaan begitu, saya lalu merasa bahwa diri saya terlalu lebih rendah, dan murah sekali. Akhirnya, ketika sudah tidak dapat menahannya lagi, dengan marah saya menerangkan kepada mereka, bahwa saya mencintai Karnain itu hanya bohong belaka. Malahan saya tambahkan, bahwa saya sangat benci kepada Karnain, dan tak mungkin Karnain akan bisa mendapatkan saya!"
Kutipan teks CERPEN diatas, merupakan sebuah jenis tindaktutur perlokusi, sekaligus ujaran yang paling berpengaruh, kepada tokoh didalam CERPEN, maupun kepada pembaca.
Didalam cerita tersebut, kutipan kalimat diatas dapat diungkapkan oleh tokoh gadis karena Ia malu, atas ejekan-ejekan kawan-kawannya, yang mengatakan gadis itu mencintai Karnain. Meskipun sesungguhnya gadis itu sangat mencintai Karnain, namun Ia merasa malu dan merasa murahan saat teman-temannya mengejek akan perasaannya terhadap Karnain.
Namun ternyata karena ucapannya itulah, karnain menjadi menjauhi gadis tersebut, untuk selamanya, bahkan hingga Karnain meninggal, dan gadis itu menyesali ucapannya untuk selamanya. Gadis tersebut memutuskan untuk hidup melajang, tak mau menikah dengan siapapun.
Yang menunjukan bahwa kutipan teks dari dalam CERPEN diatas adalah tindak tutur perlokusi yaitu: Tokoh gadis didalam cerita mengungkapkan ujaran tersebut kepada mitra tutur dalam hal ini kawan-kawannya, agar tak lagi mengejeknya. Namun ternyata akibat dari tuturan tersebut juga tokoh Karnain menjauhinya. Maka, sebagai mitra tutur, ujaran perlokusi tersebut juga memberikan efek terhadap Karnain.
Sementara itu, selain efeknya dapat dilihat dari tokoh cerpen, efek tindak tutur tersebut juga dirasakan pembaca. Saat menulis kalimat berikut, penulis memiliki tujuan memancing perasaan pembaca, memancing emosi pembaca agar pembaca merasa sedih, gemas, marah, serta iba saat membaca cerita tersebut. Maka, efek emosi yang terkuras saat membaca ujaran tokoh didalam CERPEN.
Selain tujuan penulis ingin menguras emosi pembaca, penulis juga memiliki tujuan agar setidaknya ada efek positif yang dapat terjadi pada pembaca, diantaranya pembaca dapat memetik pelajaran, untuk lebih berhati-hati didalam berucap, serta jangan pernah ragu dan malu untuk mengakui akan rasa cinta dan sayang kita terhadap orang lain.
Penulis: Mohammad Aenul Yaqin (Mahasiswa Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Islam Sultan Agung), dan Dr. Aida Azizah, M.Pd (Dosen Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Islam Sultan Agung).
0 Komentar:
Posting Komentar