Rabu, Desember 27, 2023

KANTI: HANTU MAHASISWI PENUNGGU ASRAMA PUTRI

Malam belum terlalu larut, jam di dinding baru menunjukan pukul 20.30, tapi suasana di asrama putri mahasiswi keguruan itu sudah terasa sepi.

Angin terdengar berhembus kencang, menggoyangkan pepohonan bambu yang ada di belakang asrama. Suara gesekan daun bambu yang saling bersinggungan menimbulkan suara gemersik yang mengerikan, laksana bisikan-bisikan hantu wanita yang siap meneror siapapun penghuni asrama.

Suara-suara itu bertambah menyeramkan saat terdengar gesekan batang-batang pohon bambu yang saling bersautan, Kroook! Kroook! Krieeeet! Suara-suara itu membuat Ayunda, salasatu mahasiswi tingkat akhir penghuni asrama itu bergidig ngeri, membayangkan sosok kuntilanak yang tengah bergayut di salasatu pohon bambu, yang menyebabkan pepohonan bambu mengeluarkan suara-suara yang ganjil.

Kendati demikian, Ayunda tetap melanjutkan aktifitasnya, Ia tengah sibuk mengetik sesuatu di laptopnya. Dengan kecepatan tinggi, jari-jemari Ayunda yang lentik menari-nari lincah di atas keyboard. Tapi seketika Gadis manis itu menghentikan aktifitasnya, Ia teringat, masih ada beberapa pakaiannya yang belum diangkat dari jemuran. Sadar yang belum diangkatnya dari jemuran itu merupakan setelan rok yang besok akan dikenakannya saat kuliah, ayunda langsung menepuk jidatnya.

“Ah Sial! Kenapa tadi nggak gue ambil sekalian?” gerutunya dalam hati.

Ia melihat arlojinya, jam sudah menunjukan hampir pukul 10 malam, tapi suasana asrama sudah sangat sepi. Mahasiswi penghuni asrama itu lebih milih masuk kamar masing-masing, sekedar tidur-tiduran atau menekuni buku-buku kuliahnya.

Sementara angin diluar semakin berhembus dengan kencang, dan tetes-tetes hujan mulai terdengar jatuh di atap asrama. Hujan yang semakin lama semakin deras membuat Ayunda panik, pasti roknya kehujanan dan besok tidak bisa dipakai kuliah, padahal besok Ia ada bimbingan.

Ayunda membuka pintu kamarnya, menoleh kiri-kanan, pandangan matanya menyusuri panjang lorong koridor asrama yang benar-benar sepi.
“Put! Putri! Anterin Gue ambil rok di jemuran, yuk.” Seru Ayunda memanggil Putri, temannya yang kamarnya tepat di depan kamar Ayunda.

Tak ada jawaban apapun, hanya suaranya sendiri yang bergaung memantul di tembok lorong koridor asrama yang terasa mencekam. Ayunda bingung, Ia merasa takut jika harus ke jemuran sendirian, sebab selama ini beredar sebuah kisah horor yang mengatakan di jemuran, ada sosok hantu wanita bernama Kanti.

Kabarnya Kanti salasatu mahasiswi yang meninggal karena mendapat kekerasan seksual, dari seorang pria tak dikenal yang masuk ke lingkungan asrama yang awalnya berniat mencuri, namun pria itu memperkosa Kanti secara brutal saat Ia masuk ke lingkungan asrama dan melihat keberadaan Kanti yang saat itu sedang beraktifitas di area jemuran, karena kanti biasa mencuci pakaiannya saat malam hari. Prustasi karena kesuciannya telah direnggut pria tak dikenal, akhirnya Kanti memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.

Kendati cerita itu belum bisa dipastikan kebenarannya, dan selama hampir 4 tahun Ayunda tinggal di asrama belum pernah sekalipun Ayunda bertemu dengan sosok hantu Kanti, tak urung kisah itu benar-benar menghantui Ayunda malam itu.
“Gimana kalau gue bertemu dengan hantu kanti, atau lebih parahnya gue ketemu pria tak dikenal dan gue mengalami apa yang di alami kanti, di perkaos di area jemuran, hiiii!” Ayunda bergumam sendiri.

“Puut! Putriiii! Anterin Gue ambil jemuran, yuk!” Ayunda mencoba memanggil putri sekali lagi, tapi tak ada jawaban.

Mungkin Putri sudah tertidur pulas, kamar Tasya dan Sasa yang ada di sebelah kiri-kanannya juga sudah gelap, sepertinya yang empunya kamar sudah pergi ke alam mimpi.
“Ah, persetan dengan hantu Kanti itu! Gue harus ambil rok gue sebelum benar-benar basah kehujanan dan besok gue nggak bisa bimbingan karena semua rok gue kotor dan satu-satunya yang udah dicuci malah basah kehujanan.” tekatnya dalam hati.
Ayunda merasa semakin merinding melihat gelapnya lorong menuju area jemuran. Dia memutuskan untuk mengambil pakaian tersebut meskipun hatinya berdegup kencang. Lampu-lampu koridor menyala redup, menciptakan bayangan-bayangan aneh di sepanjang jalan., Setiap langkah Ayunda terasa begitu berat, seolah-olah ada sesuatu yang mengintip dari setiap sudut. Sesekali, bayangan pohon bambu yang bergoyang dengan angin malam menciptakan ilusi aneh di dinding lorong. Suara hujan yang semakin deras seolah menyatu dengan gemuruh hatinya yang semakin cepat., Tiba di area jemuran, Ayunda berusaha untuk meraih pakaian roknya.

Saat Ia menoleh ke arah jemuran yang ada di sebelahnya, ternyata Ia melihat Putri tengah mengangkati jemurannya juga.
“Sialan tuh anak, pantes gue panggil-panggil nggak nyaut. Ternyata udah di sini, ya.” Ayunda merasa malu pada diri sendiri yang tadi sempat ketakutan tanpa sebab.

Dan bukan Ayunda namanya, kalau sifat jailnya nggak kumat.

Saat itu, posisi Putri membelakangi Ayunda, sehingga Ayunda yakin Putri belum mengetahui kehadiran Ayunda di tempat itu. Putri masih sibuk, yang jika Ayunda amati, entah sedang apa Putri. Anak itu berdiri di dekat beberapa pakaian yang masih di jemur, dan Ayunda tahu, itu pakaian Putri yang belum kering karena tadi nyucinya bareng. Tapi Putri hanya berdiri tertunduk, tanpa bergerak.

“Ah, pasti anak itu sedang berdoa karena ketakutan.” ujar Ayunda dalam hati.
“Biar gue kagetin ah.”

Ayunda melangkah mengendap-endap mendekati Putri yang masih saja berdiri tertunduk, Ia semakin dekat, dan
“Dooor!” Seru Ayunda seraya menepuk pundak Putri.

Tapi seketika Muka Ayunda langsung pucat, tubuhnya gemetar, karena tangannya tak menyentuh apapun. Benar, benar tangan Ayunda menyentuh tempat kosong, walaupun sosok Putri masih berdiri di depannya, tak kurang dari setengah meter.

Akhirnya, sosok yang Ayunda kira Putri itu menoleh, Ayunda melihat langsung wajah sosok wanita itu. Rupanya wanita itu bukan putri, wajahnya sangat pucat, dengan mata yang melotot nyaris keluar dan lidah yang menjulur panjang hingga menjuntai hingga ke dada.

“Aku Kanti.” ucap sosok wanita itu dengan suara mendesis, lalu terbang ke atas pucuk pohon bambu seraya meninggalkan suara tawanya yang memecah keheningan malam itu.

Ayunda berlari sekuat tenaga, Ia berusaha mempertahankan kesadarannya, kendati nyaris pingsan.

Paginya, Ayunda benar-benar tidak jadi bimbingan karena Ia demam tinggi. Entah penyebab demam Ayunda karena melihat hantu Kanti, apa karena semalam sempat kehujanan saat ngangkat jemuran.

Yang jelas, Ayunda tak mau menceritakan apa yang dilihatnya kepada anak-anak penghuni asrama yang lain. Ayunda tak mau anak-anak yang lain jadi ketakutan, apalagi adik-adik mahasiswi baru yang baru tinggal di asrama.

TAMAT.

2 komentar:

Cari Yang Ada

Mengenai Saya

Seorang Tunanetra dari tegal yang sangat hobby menulis